TAUSHIYAH MIHRAB QOLBI #Seri1

Oleh KH. RAFIUDIN SADAKAN

Pimpinan Pesantren Daruttasbih Ar-Rafi & Penasihat Manajemen Mihrab Qolbi


KETIKA PERTOLONGAN ALLAH DATANG DARI ARAH YANG TIDAK DISANGKA


Bapak dan Ibu yang dirahmati Allah…


Saya ingin berbagi sebuah kisah nyata.


Waktu itu ada keluarga kami yang sedang menghadapi ujian yang sangat berat. Kami berusaha mencari pertolongan, termasuk memeriksakan kehamilan kepada dokter terbaik.


Saya ingat pernah mengatakan kepada salah seorang jamaah di Tangerang, Bu Ella:


“Bu Ella, tolong carikan dokter yang bagus untuk memeriksa bayi ini.”


Kemudian saya meminta Pak Firda untuk menemani dan mengikuti proses pemeriksaan tersebut.


Persoalan biaya, saya katakan:


“Sudah, urusan biaya nanti biar menjadi urusan saya. Yang penting sekarang lakukan yang terbaik.”


Namun, dalam hati saya ada satu niat.


Saya berkata:


“Ya Allah, saya mengharapkan pertolongan-Mu.”


Kalau bahasa Ustaz Nasrullah:


Pertolongan Allah.


Ketika itu, kami sedang dalam perjalanan dan baru dari Masjidil Aqsa, kemudian akan melanjutkan perjalanan umrah.


Di tengah perjalanan itu, saya teringat satu prinsip dari zaman Rasulullah ﷺ dan para sahabat:


Berikanlah sesuatu yang kita cintai karena Allah, maka Allah akan memberikan pertolongan yang tidak kita sangka-sangka.


Saya kemudian membuka dompet.


Saya keluarkan semua yang ada di dalamnya.


Ada dolar.


Ada riyal.


Ada rupiah.


Saya sendiri tidak menghitung berapa jumlahnya.


Saya izin terlebih dahulu kepada istri.


Lalu seluruh isi dompet itu saya berikan kepada imam di Masjidil Aqsa.


Saya katakan:


“Syekh, ini ada sedikit rezeki dari saya. Ada dolar, ada riyal, ada rupiah. Saya tidak menghitungnya. Semuanya saya berikan.”


Kemudian saya berdoa.


Saya memohon kepada Allah agar diberikan yang terbaik.


Saya tidak berani memaksa Allah.


Saya tidak berani mengatakan:


“Ya Allah, harus begini.”


Tidak.


Saya hanya memohon:


“Ya Allah, berikanlah yang terbaik menurut-Mu.”


PERTOLONGAN ITU DATANG DALAM MIMPI


Setelah itu, saya memperbanyak membaca ayat:


سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ


“Subhanalladzi asra bi abdihi laylan minal masjidil harami ilal masjidil aqshal ladzi barakna haulahu…”


Ayat ini terus saya baca.


Saya ulang-ulang.


Saya berharap kepada kemurahan Allah.


Kemudian saya tertidur.


Dan saya mendapatkan sebuah mimpi.


Dalam mimpi itu saya melihat anak-anak.


Saya merasa sangat bahagia.


Seolah-olah Allah sedang memberikan sebuah kabar yang menenangkan hati.


Keesokan harinya saya mendapat kabar dari Bu Ella.


Saya bertanya:


“Bu, bagaimana hasil pemeriksaannya?”


Beliau menjawab:


“Aneh, Pak. Hasilnya ternyata satu.”


Saya bertanya lagi:


“Serius?”


“Iya, Pak. Ternyata satu.”


Subhanallah.


Saya pun sangat bersyukur kepada Allah.


Saya semakin yakin bahwa ketika manusia sudah berusaha, kemudian menyerahkan semuanya kepada Allah, maka Allah memiliki cara-Nya sendiri untuk memberikan jawaban.



BERBICARA KEPADA ALLAH DENGAN PENUH TAWAKAL


Bapak dan Ibu…


Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa ketika menghadapi masalah yang berada di luar kemampuan kita, jangan hanya mengandalkan kemampuan kita.


Ada saatnya kita harus:


Berusaha.


Berikhtiar.


Bersedekah.


Berdoa.


Dan kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.


Jangan terlalu memaksa Allah dengan keinginan kita.


Kadang kita meminta sesuatu yang menurut kita baik.


Tetapi Allah tahu sesuatu yang jauh lebih baik.


Maka katakan:


“Ya Allah, berikanlah yang terbaik menurut-Mu.”



KELAHIRAN YANG PENUH MAKNA


Singkat cerita, kami kembali ke Indonesia.


Pada malam 12 Rabiul Awal, malam Jumat, ketika kami sedang mengadakan Maulid Nabi ﷺ, keluarga kami berada di rumah sakit untuk melahirkan.


Dan akhirnya lahirlah seorang bayi perempuan.


Diberi nama:


Abida.


Kami sangat bersyukur.


Peristiwa itu menjadi sangat berkesan karena bertepatan dengan momentum Maulid Nabi.


Kemudian ada peristiwa lain yang jauh lebih mengejutkan.


Beberapa hari setelah itu, datang seorang perempuan membawa seorang bayi yang baru berusia tiga hari.


Bayi itu laki-laki.


Ia datang dan berkata kurang lebih:


“Assalamu’alaikum. Saya datang ke sini karena saya ingin menyerahkan bayi ini kepada Kiai Rafiudin.”


Saya pun terkejut.


“Kenapa? Ada apa?”


Perempuan tersebut kemudian menceritakan kisah hidupnya.


Ternyata beliau seorang mualaf.


Suaminya bukan Muslim.


Keislamannya selama ini dirahasiakan.


Namun ketika sedang hamil, ia ketahuan bahwa dirinya telah masuk Islam.


Akhirnya ia diusir.


Ia diberi pilihan:


“Kembali kepada agama sebelumnya, maka anak ini akan kita besarkan bersama. Kalau tidak, silakan keluar.”


Dalam kondisi hamil, beliau memilih mempertahankan keimanannya.


Ia keluar.


Ia hidup bersama temannya di Tangerang.



MIMPI YANG MENUNTUN SEORANG IBU


Ketika usia kehamilannya sekitar tujuh bulan, ia mendapatkan mimpi.


Dalam mimpi itu ia mendengar sebuah pesan:


“Anak yang akan lahir ini, besarkanlah kepada Kiai Rafiudin.”


Masalahnya…


Beliau tidak tahu siapa Kiai Rafiudin.


Ia kemudian bertanya kepada temannya:


“Siapa Kiai Rafiudin?”


Akhirnya temannya mengingatkan bahwa dulu dialah yang membantu membawanya ke pesantren dan menjadi salah satu bagian dari perjalanan hijrahnya.


Setelah bayi itu lahir, sesuai dengan mimpinya, ia mencari Kiai Rafiudin.


Dan akhirnya, bayi yang baru berusia tiga hari itu dibawa ke pesantren.


Beliau benar-benar datang dengan membawa amanah.


Beliau berkata bahwa ini bukan karena dirinya tidak mampu membesarkan anak.


Bukan pula karena tidak mencintai anaknya.


Tetapi karena ia merasa mendapat amanah melalui mimpi tersebut.


Ia datang dengan keyakinan:


“Saya hanya mengikuti petunjuk yang saya dapatkan. Anak ini harus saya bawa kepada Kiai Rafiudin.”


PESAN BESAR DARI KISAH INI:


Dari kisah ini kita belajar bahwa:


1. Ketika ada persoalan yang tidak mampu kita selesaikan, mintalah pertolongan Allah


Bukan berarti kita berhenti berikhtiar. Justru kita melakukan ikhtiar terbaik, kemudian menyempurnakannya dengan tawakal.


2. Sedekah adalah salah satu bentuk menyerahkan sesuatu yang kita cintai kepada Allah


Memberi bukan berarti berkurang. Kadang kita memberi ketika kita sendiri sedang membutuhkan pertolongan Allah.


3. Jangan memaksa Allah untuk mengikuti keinginan kita


Lebih baik berdoa:


“Ya Allah, berikanlah yang terbaik menurut-Mu.”


Karena Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan.


4. Pertolongan Allah bisa datang dari arah yang tidak kita sangka


Bahkan dalam bentuk yang tidak pernah masuk dalam perhitungan manusia.


5. Haji dan umrah adalah perjalanan memperkuat keyakinan kepada pertolongan Allah


Perjalanan menuju Tanah Suci bukan hanya perjalanan fisik.


Tetapi perjalanan untuk belajar:


Tawakal.


Yakin kepada Allah.


Dan menyerahkan kehidupan kepada kehendak terbaik-Nya.



Berlanjut ke #Seri2

*Disarikan dari taushiyah KH. Rafiudin, dalam pembukaan kantor pusat Manejemen Mihrab Qolbi Travel. https://www.youtube.com/watch?v=iO0N7JqWD9U