Ust. Ali Murtadlo, LC


“Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit.”

(QS. Al-Baqarah: 41)

 

Ayat ini sering kali dipahami secara terlalu sederhana:

seolah-olah setiap orang yang mendapatkan ujrah dari aktivitas keagamaan berarti “menjual agama”.

 

Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu.

 

•⁠  ⁠JUAL AGAMA ITU APA?

 

Yang tercela bukanlah sekadar adanya transaksi dalam aktivitas keagamaan.

 

Yang tercela adalah ketika:

 

•⁠  ⁠ayat dijadikan alat manipulasi demi keuntungan pribadi;

•⁠  ⁠kebenaran agama dipelintir atau disembunyikan demi kepentingan dunia;

•⁠  ⁠dalil dicari-cari hanya untuk membenarkan pihak tertentu dan menyalahkan pihak lainnya;

•⁠  ⁠agama dijadikan sekadar kemasan untuk kepentingan yang tidak sejalan dengan nilai agama.

 

Itulah yang harus kita waspadai.

 

Tetapi mengajarkan Al-Qur’an dengan mendapatkan ujrah, misalnya, tidak otomatis berarti menjual agama.

 

Mengapa?

 

Karena guru ngaji juga manusia yang membutuhkan nafkah.

 

Kita rela membayar mahal guru piano, guru bahasa, trainer profesional, dokter, konsultan, bahkan berbagai jasa duniawi lainnya.

 

Lalu mengapa ketika seseorang mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu agama, justru kita merasa bahwa menghargainya adalah sesuatu yang salah?

 

Bukankah ilmu agama juga harus kita naikkan marwahnya?

 

•⁠  ⁠BANGGA DENGAN IDENTITAS KEBAIKAN

 

Kita tidak malu menampilkan gelar:

Dr.

Prof.

Sarjana..

CEO.

Trainer.

Consultant.

 

Lalu mengapa sebagian orang justru merasa harus malu ketika identitas keagamaannya terlihat?

 

“Haji” bukan sesuatu yang memalukan.

 

“Ustadz” bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

 

“Guru Al-Qur’an” bukan profesi rendahan.

 

Jika seseorang telah menyempurnakan salah satu rukun agama, mengapa tidak boleh menjadi kebanggaan?

 

Bukankah menyempurnakan agama seharusnya memberikan kebahagiaan yang bahkan lebih besar daripada sekadar menyempurnakan perjalanan ke Eropa?

 

Kita boleh bangga dengan kebaikan, selama kebanggaan itu tidak berubah menjadi kesombongan. Jangan sampai malah bangga dengan dosa, kan?.

 

 

•⁠  ⁠SYIAR BUKAN SEKADAR JUALAN

 

Di sinilah pentingnya membedakan:

 

JUALAN

dengan

SYIAR.

 

Misalnya, ketika kita berbicara tentang haji dan umrah:

 

وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ الْحَجَّ أَتِمُّوا وَ

 

Sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah.

QS. Al-Baqarah: 196

 

Ayat ini bukan sekadar materi promosi perjalanan.

 

Ketika sebuah perjalanan haji atau umrah membawa manusia semakin dekat kepada Allah, maka yang dibangun bukan sekadar bisnis travel.

 

Ada nilai syiar di dalamnya.

 

Begitu pula ketika kita mengajak masyarakat mengenal emas dinar, menabung, mengamankan harta, memahami zakat, dan menghidupkan sunnah Rasulullah 

Jangan berhenti pada:

 

“Ini produk emas.”

 

Naikkan menjadi:

 

“Ini bagian dari edukasi muamalah.”

 

Jangan berhenti pada:

 

“Ini perjalanan.”

 

Naikkan menjadi:

 

“Ini safar untuk syiar baitullah .”

 

Jangan berhenti pada:

 

“Ini dinar.”

 

Naikkan menjadi:

 

“Ini ikhtiar menghidupkan sunnah, menjaga harta, dan menunaikan kewajiban zakat sekaligus rukun islam.

 

 

•⁠  ⁠SYIAR DINAR: BUKAN SEKADAR MENJUAL DINAR

 

Karena itu, Syiar Dinar jangan dipersepsikan hanya sebagai aktivitas menjual emas.

 

Ada nilai yang lebih tinggi:

 

Simpan.

Amankan.

Muliakan.

 

Edukasi tentang menjaga harta.

Edukasi tentang zakat.

Edukasi tentang perencanaan masa depan.

Edukasi tentang muamalah.

Edukasi tentang bagaimana harta tidak hanya menjadi alat konsumsi, tetapi menjadi sarana menghadirkan kebermanfaatan.

 

Maka tugas kita bukan sekadar membuat orang membeli.

Tugas kita adalah membuat orang memahami nilai.

 

Bukan sekadar transaksi.

Tetapi transformasi.

 

•⁠  ⁠JANGAN MALU MENYIARKAN KEBAIKAN

 

Kalau orang lain boleh bangga menjadi:

 

CEO, dokter, profesor, trainer, pengusaha, traveler…

 

maka seorang muslim, termasuk di komunitas kita juga boleh bangga mengatakan:

 

Saya guru ngaji/agama.

Saya trainer magnet rezeki.

Saya syiar dinar kr.

 

Selama bukan untuk kesombongan.

 

Tetapi untuk menunjukkan:

“Inilah nilai yang saya yakini.”

 

Agama tidak perlu disembunyikan agar terlihat modern.

 

Justru agama harus hadir dengan wajah yang mulia, profesional, elegan, dan memberikan manfaat.

 

Jangan jual ayat dengan murah.

Jangan pula rendahkan syiar.

Jangan jadikan agama sebagai alat manipulasi.

 

Tetapi jangan pula sampai karena takut disebut “jual agama”, kita akhirnya malu menampilkan kebaikan, malu menghargai guru agama, malu memakai identitas keislaman, dan malu mensyiarkan ajaran Allah.

 

Naikkan levelnya.

 

Dinar bukan sekadar emas.

Travel bukan sekadar perjalanan.

Haji bukan sekadar gelar.

Mengaji bukan sekadar aktivitas.

 

Justru dengan nilai agama, naiklah pula nilai-nilai produk/jasa.

Ketika semuanya diniatkan lillāhi ta‘ālā, dijalankan dengan ilmu, sesuai syariat, jujur dalam muamalah, dan menghadirkan manfaat— maka ia bukan sekadar aktivitas dunia. Ia bisa menjadi bagian dari syiar yang bernilai akhirat dan surga.



*SYIAR BUKAN SEKADAR MENJUAL, SYIAR ADALAH MENGHIDUPKAN NILAI.*