Menguatkan Sinergi Ulama dan Pengusaha untuk Menjaga Aset Umat
Tazakka — Rabu, 30 September 2026 DinarKR kembali memperkuat langkah silaturahmi dan sinergi bersama pesantren. Kali ini, DinarKR bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Tazakka, dalam ikhtiar bersama untuk menghadirkan kebermanfaatan yang lebih luas bagi umat, khususnya melalui penguatan pesantren dan pengamanan aset umat.
Pertemuan ini bukan sekadar tentang emas dan dinar. Lebih jauh, ia menjadi ruang untuk kembali melihat bagaimana sunah, ekonomi, pesantren, dan dunia usaha dapat berjalan beriringan dalam membangun peradaban umat.
Dalam pertemuan tersebut, K.H. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D. Beliau sebagai Pimpinan Pondok Modern Tazakka dan juga Sebagai Sekretaris Jenderal Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG) menyampaikan pandangan tentang emas dan dinar sebagai bagian dari instrumen yang memiliki akar sejarah dalam kehidupan Rasulullah ﷺ dan para sahabat.

“Emas dan Dinar kembali kepada sunah.”
Menurut beliau, salah satu pertimbangannya adalah karena emas dan dinar merupakan instrumen yang memiliki jejak dalam risalah Islam dan pernah digunakan pada masa Rasulullah ﷺ serta para sahabat.
Nilai tambah dari emas dan dinar, lanjut beliau, tidak hanya dilihat dari aspek materialnya. Ada nilai sejarah dan nilai risalah yang mengiringinya sebuah pengingat bahwa apa yang pernah menjadi bagian dari kehidupan generasi terbaik umat tentu memiliki pelajaran yang patut direnungkan dan dihidupkan kembali sesuai konteks zaman.
Lebih dalam lagi, K.H. Anang Rikza Masyhadi menekankan pentingnya sinergi antara ulama dan pengusaha dalam menggerakkan umat.
“Ini semua dinamakan sunah pergerakan adalah sinergi, kolaborasi ulama dan pengusaha. Kapan Rasulullah tidak sama pengusaha? Beliau di mana-mana selalu bersama pengusaha.”
Pesan ini menjadi pengingat bahwa dunia usaha bukanlah sesuatu yang harus dijauhkan dari perjuangan umat. Justru, sejarah Islam menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi memiliki peran besar dalam membangun kebermanfaatan.
Bahkan, peradaban Islam memiliki akar yang kuat pada tradisi wakaf. Namun, wakaf membutuhkan kekuatan aset. Dan kekuatan aset membutuhkan orang-orang yang mau membangun usaha, mengelola harta, kemudian mengembalikannya kepada umat dalam bentuk kemanfaatan.
Karena itu, jangan sampai umat memandang dunia usaha sebagai sesuatu yang asing dari perjuangan agama.
Rasulullah ﷺ sendiri berdagang sebelum diangkat menjadi Rasul. Para sahabat pun banyak yang menjadi pengusaha dan pedagang. Bahkan di antara sepuluh yang dijamin masuk surga, yaitu para pedagang.
Maka, menjadi pengusaha bukan hanya tentang seberapa besar keuntungan yang diperoleh, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang dapat dilahirkan dari keuntungan tersebut.
Semakin besar keuntungan yang diperoleh, semakin besar pula peluang untuk menghadirkan manfaat.
Inilah yang menjadi salah satu semangat pertemuan DinarKR bersama Pondok Pesantren Tazakka: membangun sinergi antara pesantren, ulama, dan dunia usaha agar kekuatan ekonomi tidak berhenti pada kepemilikan pribadi, tetapi dapat menjadi jalan untuk menjaga dan menguatkan aset umat.
Sebab, menjaga aset umat bukan semata-mata tentang menjaga harta.
Ia adalah tentang menjaga amanah.
Menjaga keberlangsungan dakwah.
Menjaga pesantren.
Dan menyiapkan kekuatan ekonomi untuk generasi umat di masa depan.
DinarKR meyakini bahwa ketika ulama memberikan arah, pengusaha menghadirkan kekuatan ekonomi, dan pesantren menjadi pusat pembinaan umat, maka sinergi tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar membangun kembali peradaban Islam yang kokoh bukan hanya kuat dalam ilmu dan ibadah, tetapi juga kuat dalam ekonomi dan kemandirian.
Karena umat yang kuat bukan hanya umat yang mampu menjaga hartanya, tetapi umat yang mampu menjadikan hartanya jalan untuk menghadirkan maslahat bagi sesama.


Fachri Husaini Ahwan