• Light rain17.2°CColumbus |
  • Jumat 04 April 2025

Memaknai

Teks Khutbah Idul Fitri

اللهُ أَكْبَرُ (۳) اللهُ أَكْبَرُ (۳) اللهُ أَكْبَرُ (۳) وَ لِلَّهِ الحَمْدُ 

الله أكبر كبيرًا، وَالحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَرْمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْكَرِهَ الكَافِرُوْنَ 

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ 


الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي حَرَّمَ الصِّيَامَ أَيَّامَ الأَعْيَادِ ضِيَافَةً لِعِبَادِهِ الصَّالِحِينَ . أَشْهدُ أن لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ الَّذِي جَعَلَ الجنَّةَ لِلْمُتَّقِينَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلانَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيمِ اللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّمْ وَبَارِكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ أَوْصِبْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَارُ المُتَّقُونَ . وَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ قال الله تعالى فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيْمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ 

Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah, 

Alhamdulillah, puji syukur yang tiada terkira kita panjatkan ke hadirat Allah subhanahu wata'ala sebab atas ridha dan rahmat-Nya kita bisa berkumpul di tempat ini untuk menunaikan rangkaian ibadah shalat Idul Fitri sembari kita mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil sebagai pengakuan kita akan kebesaran-Nya.

Atas karunia besar ini, sudah seyogianya kita senantiasa terus-menerus berupaya sepenuh hati meningkatkan ketakwaan dalam diri kita dengan menjalankan segala perintah Allah subhanahu wata'ala dan menjauhi larangan-Nya. Upaya menuju takwa sebagai bentuk rasa syukur kita.

Bukankah ibadah puasa yang Allah perintahkan di bulan Ramadhan pun bermaksud agar kita mencapai derajat takwa? Bermodal takwa, kita bisa mendapatkan kejaiban dan rezeki luar biasa. 

Saat ini juga kita patut bergembira karena selama bulan puasa kita diberi kesempatan untuk menambah pundi-pundi pahala, juga menghapus dosa-dosa kita. Bagaimana kita tidak bahagia, amal perbuatan tidak baik yang menjadi PERISAI REZEKI kita selama ini dimaafkan, dosa yang menghalangi datangnya rezeki dahsyat itu pun diampuni. Semoga semuanya membuahkan hasil yang maksimal, bukan hanya rezeki di dunia tapi juga rezeki akbar di syurga. Amin Ya Rabbal'alamin. 

Ramadhan asal katanya ro-ma-dho artinya "membakar dosa" maksudnya pada bulan ini umat nabi Muhammad SAW mempunyai kesempatan yang sangat besar supaya dosa-dosanya habis terbakar, diampuni Allah. Maka tak heran bulan Ramadhan disebut syahrul maghfiroh, bulan penuh ampunan. Diampuninya dosa kita oleh Allah di Bulan Ramadhan. diindikasikan dengan kita berhasil shiyam (puasa di siang hari) dan qiyamullail dengan dasar iman dan ihtisaban, artinya terencana maksimal meraih pahala optimal. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ 

Artinya: "Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

Segala persoalan, penyakit ataupun musibah yang mungkin sedang kita hadapi sejatinya adalah karena ulah gaya hidup kita sendiri di masa lalu yang tidak diridhoi Allah. Allah Huwal-Ghofur-ur-Rahim, lalah Yang Maha Pengampun dan Penyayang, Allah tidak ingin hamba-Nya yang soleh hidup dalam penderitaan di dunia apalagi neraka di akhirat, tapi dasar kita yang suka menantang! Terlampau berani kita berbuat dosa yang mendatangkan azab, maka saat-saat ketidakmudahan ini dalam kondisi tidak sehat ini inshaAllah jadi DETOX yang jika kita rela menerimanya akan dapat membersihkan dosa-dosa yang ada, sehingga kita kembali fitri, kembali kepada pemrogaman manusia yakni hidup mulia dan bahagia.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ الله أكبر لا إله إلا الله، واللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الحَمْدُ 

Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah, 

Idul Fitri sering dimaknai sebagai hari raya sekaligus pertanda berakhirnya ibadah puasa Ramadhan. Dalam budaya Nusantara ini ia lebih masyhur dengan istilah lebaran (terselesaikan). Dalam kamus Al-Ma'any Idul Fitri dimaknai sebagai, 

اليَوْمُ الأَوَّلُ الَّذِي يَبْدَأُ بِهِ الإِفْطَارُ لِلصَّائِمِينَ 

Artinya: "Hari pertama bagi orang-orang yang berpuasa Ramadhan mulai kembali berbuka dengan makan dan minum seperti di hari-hari biasa." 

Selain itu ada juga yang memaknai Idul Fitri dengan 'kembali suci atau terbebas dari dosa'. Makna ini disandarkan pada hadits tentang keutamaan dihapusnya dosa bagi orang yang berpuasa. Seperti halnya bayi yang baru lahir yang tidak punya dosa. Meskipun kata "fitri" bukanlah berarti suci dalam bahasa arab.

Fithri, terdiri dari huruf fa-tho-ro yang menjadi asal kata dalam bahasa arab berarti memecah. Kata "ifthor" sering digunakan saat berbuka puasa, ta'jil ifthor artinya menyegerakan berbuka puasa, maka makna "ifthor" adalah memecah puasa setelah kita menahan diri (imsak) dari larangan-larangan saat seharian berpuasa.

Adapun Hadits Rasulullah SAW 

كُلُّ مَوْلُودِ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ 

Setiap anak dilahirkan dalam fitrahnya." (HR. Bukhari dan Muslim). 

Meskipun fitrah bukan berarti suci (suci itu thohir atau muqoddas) tapi memang manusia yang baru lahir secara fitrah dapat diibaratkan dengan kertas, manusia terlahir seperti kertas putih, tanpa goresan tinta, dan bebas dari dosa. Mesipun orangtua yang melahirkannya mungkin telah berbuat dosa. Dalam Islam tidak dikenal adanya dosa warisan.

Berbagai makna di atas benar semua, namun pada kesempatan yang berbahagia ini khatib ingin mengajak menyelami makna fitrah dalam Al-Qur'an.

Allah subhanahu wata'ala memerintahkan dalam Al-Qur'an agar menghadapkan wajah kita kepada agama yang lurus sebagai fitrah kehambaan kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya: 

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيْمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ 

Artinya: "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui," (QS. Ar-Rum: 30). 

Imam Al-Qurthubi menafsirkan "fitratallah" sebagai fitrah agama. Adapun maksud dari lafaz "hanifan" itu adalah lurus dan jauh dari agama-agama yang belum sesuai Qur'an dan Sunnah.

Dengan demikian, maksud dari ayat tersebut adalah Allah menyuruh Rasulullah SAW beserta umatnya untuk menghadapkan serta menegakkan wajahnya (tidak menengok ke kanan dan ke kiri) pada agama Allah (Islam). Karena pada dasarnya setiap anak yang masih berada dalam kandungan ibunya, secara fitrah mereka sudah mengakui ketuhanan Allah (baik kedua orang tuanya Muslim atau non-Muslim). 

Dalam kata lain, Idul Fitri adalah konsep kehambaan yang mengantarkan kita untuk kembali mengenal Allah subhanahu wata'ala. Bukankah tanpa kita sadari bahwa Ramadhan yang telah berlalu mengantarkan sekaligus mengajarkan kita untuk kembali mengenal Allah melalui beragam ibadah; kenal kembali dan semakin mendekat kepada Allah melalui puasa, qiyamullail, shalat berjamaah, membaca al-Qur'an, sedekah, memberi buka puasa dan lain-lain, yang kesemuanya tidak bisa kita lakoni kecuali di bulan Ramadhan. 

Perhatikan saja dimana ada orang yang suka berinteraksi bergaul berkumpul akhirnya lahirlah rasa saling mengasihi dan mencintai. Bagaimana dengan kita yang ingin dicintai Allah tapi tapi tidak mau mengenalinya tidak mau lebih banyak interaksi?! 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ الله أكبر لا إله إلا الله، والله أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الحَمْدُ 

Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah, 

Menangislah saat Ramadhan pergi, dan tangisilah diri kita jika Ramadhan tidak bisa mengubah diri kita menjadi pribadi lebih baik hingga ledul fithri. Karena semestinya dengan berbagai keistimewaan Ramadhan kita mereguk berbagai keajaiban. Para Ulama pun mengatakan "celakalah orang yang telah melalui bulan Ramadhan tapi belum dapat ampunan". 

Jika Ramadhan telah mengajarkan kita untuk mengenal Allah, maka Idul Fitri ibarat puncak tujuan bahwa kita betul-betul diharapkan sudah kembali mengenal Allah. Setelah kita mengenal Allah, tugas terbesar saat ini adalah bagaimana cara merawatnya, jangan sampai kita hanya mengenal Allah hanya saat Ramadhan saja, sebagaimana yang disampaikan oleh seorang ulama saleh terdahulu yaitu Bisyr Al-Hafi, 

بئْسَ القَوْمُ لا يَعْرِفُونَ اللهَ حَقًّا إِلَّا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِي يَتَعَبَّدُ وَ يَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهَا 

Artinya: "Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah di bulan Ramadhan saja. Ingat, orang yang saleh yang sejati adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh sepanjang tahun" (Lathaif Al-Ma'arif, h. 390). 

Lalu bagaimana agar kita tetap istiqamah mengenal Allah pasca Ramadhan? Pertama, berdoa agar hati kita tetap istiqamah dan tidak mudah berubah. 

Adalah hadist Qudsi (hadis yang diriwayatkan oleh Nabi SAW dari firman Allah SWT) yang sangat luar biasa efek dan manfaatnya. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim, 

أَنَا عِندَ ظَنَّ عَبْدِي بي.... ...Ana Inda Dzonni Abdi b)

"Sesungguhnya Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hambaku..."

Zonn artinya prasangka/fokus, apapun yang jadi fokus di pikiran kita pun menjadi doa. Semua doa dikabulkan Allah, baik yang positif ataupun tidak positif, maka teruslah berprasangka baik atau berpikir positif. Ingat ada 60.000 pikiran tiap hari terproyeksi menjadi nasib kita, maka fokuslah hanya yang baik-baik saja. Inilah hukum proyeksi pikiran (LAW OF PROJECTION)

Di antara doa sehari-hari agar istiqomah: 

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ 

Artinya: "Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)" (HR at-Tirmidzi).

Kedua, berkumpul dengan orang-orang yang saleh yang mengantarkan pada kebaikan. Orang-orang soleh bukanlah yang merasa paling alim paling benar paling soleh, tapi justru yang melalui jalan pertaubatan, tidaklah ada taubat jika masih hobi menyalahkan orang lain dibanding introspeksi atas kesalahan diri sendiri. Jika pun mereka menyeru kebaikan tentu dengan cara yang baik yang sejuk seperti cara Nabi, bukan dengan justifikasi.

Seorang alim bijak berpesan bahwa untuk istiqomah dalam kebaikan perlu teman. 

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

Artinya: "Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya." (QS al-Kahfi: 28). 

Ayat ini menyimpan makna agar kita senantiasa bersama orang-orang yang soleh/solehah sebab membersamai mereka bukan hanya bisa menenangkan hati namun juga mendorong diri untuk selalu berbuat baik. Dekat dengan penjual parfum, maka kita akan ikut harum.

Ketiga, berusaha beribadah terus-menerus walaupun hanya sedikit, sholat duha 2 rakaat tiap hari lebih baik daripada 12 rakaat tapi dilakukan sehari saja, sedekah 5 ribu/hari lebih baik daripada 5 juta hanya di 1 momen saja, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, 

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلْ 

Artinya: "Amalan yang paling dicintai di sisi Allah ta'ala adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus (dawam) walau jumlahnya sedikit." (Muttafaqun 'Alaih).

Barangkali menjaga terus amalan kita sebagaimana saat di bulan Ramadhan, seperti shalat malam, berjamaah di masjid, dan baca al-Qur'an, adalah perkara yang tidak mudah. Namun teruslah berusaha secara maksimal, walaupun nanti intensitasnya. berkurang yang penting bisa rutin dan tetap dijaga. Dengannya semoga kita dapatkan cintaNya Allah, setelah puncaknya kita kembali mengenali Allah SWT di Hari Raya. 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ الله أكبر لا إله إلا الله، والله أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الحَمْدُ 

Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah,

 Kebiasaan lebaran di Nusantara tercinta adalah saling berkunjung bersalam-salaman saling memaafkan. Memaafkan memang tidak semudah minta maaf. Maka mari meski Ramadhan telah usai, teruslah kita jaga silaturahim dan toleransi. Seperti ikan yang menjaga terumbu kerang, mereka tau betul di TERUMBU KARANG itu Allah titip rezekinya. Maka, rezeki kita manusia dititip di kemuliaan dan kebahagiaan manusia lainnya. 

Fokus saja kepada kesatuan kesamaan dan keterhubungan, karena hakikatnya kita Satu Sama Terhubung

Kepada semua makhluk saja kita harus saling menjaga, terlebih kepada sesama Muslim yang beriman kepada Allah yang Maha Esa. Mereka yang sudah kenal Allah akan berhati-hati betul dalam perkataaan dan perbuatannya kepada sesama.

 Rasulullah SAW bersabda, "Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam." (HR Bukhari dan Muslim). 

Perbedaan harus disikapi sebagai Rahmat. Hal-hal yang berpotensi merusak toleransi harus kita cegah dengan cara perluas ilmu dan wawasan kita dalam beragama dan bermasyarakat, hilangkan sekat-sekat kelompok dan organisasi, JADILAH PEREKAT UMAT dengan ikut berperan aktif menjaga persatuan ummat dan meminimalisir khilafiyah agar terbangun ukhuwah Islamiyah dan ukhuwuh basyariyah. Allah SWT berfrman (yang artinya): Dan berpegang teguhlah dalam tali agama Allah dan jangan saling bercerai-berai. (Q.S. Ali Imran 103)

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ الله أكبر لا إله إلا الله، والله أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الحَمْدُ 

Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah, 

Demikianlah khutbah Idul Fitri tahun ini, semoga Allah subahanahu wa ta'ala menerima semua amal ibadah Ramadan kita. Taqabballahu minna wa minkum Taqabbal Ya Karim. 

Semoga Allah subahanahu wa ta'ala memberikan kekuatan lahir dan batin kepada kita untuk beramal ibadah seolah-olah RAMADHAN EVERY MONTH, seolah-olah Ramadhan tiap bulan. Amin ya rabbal 'alamin. 

Terakhir izinkan khatib menyampaikan pesan bijak "Jika engkau menjalani seluruh hidup seolah-olah di Bulan Ramadhan, niscaya engkau akan dapati akhirat sebagai hari raya" 

Selamat hari raya, selamat berbahagia tanpa syarat, jikapun bersyarat maka itulah ridho dan cinta Allah SWT. 

جعلنا الله وإياكم من العائدين والفائزين والمقبولين كل عام وأنتم بخير . آمين 

بسم الله الرحمن الرحيم 

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ . وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَم وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ 

Khutbah II 

اللهُ أَكْبَرُ (۳) الله اكبر (٤) الله أكبر كبيرا والحَمْدُ للهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيلاً لا إلهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَاللهِ الحَمْدُ 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَكَفَى، وَأَصَلِّي وَأَسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ الْوَفَا أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَريكَ لهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولَهُ 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أَوْصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ فَقَالَ : إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللَّهُمَّ صَلَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ 

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاء وَالْمُنْكَر وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوفَ المُخْتَلِفَة وَالشَّدَائِدَ والمحن، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ عِبَادَ اللهِ ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ والبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ . فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

Donwload Teks Khutbah Idul Fitri dalam bentuk PDF disini : https://drive.google.com/file/d/1z6LmIuqIC2U0ppaQK3ux3cPKBPN2reqh/view?usp=sharing