Memberi THR atau Hadiah
Solichen
- 02 April 2025
THR dalam Perspektif Sejarah dan Makna Berbagi di Hari Raya
Di Indonesia, pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) telah menjadi tradisi yang melekat dalam perayaan Idul Fitri. Setiap tahun, banyak orang menantikan momen ini, baik sebagai pemberi maupun penerima. Namun, pernahkah kita merenungkan bagaimana sejarah dan tujuan awal dari THR itu sendiri? Bagaimana dampaknya terhadap masyarakat, dan apakah ada cara yang lebih bermakna untuk mempertahankan semangat berbagi di hari raya?
Sejarah dan Asal Mula THR
Tunjangan Hari Raya (THR) pertama kali diperkenalkan pada era Presiden Soekarno sekitar tahun 1950-an. Pada masa itu, kondisi ekonomi Indonesia masih sulit pasca-kemerdekaan, dan banyak pegawai negeri sipil (PNS) merasa kesejahteraan mereka belum sepenuhnya terjamin.
Pada tahun 1951, Perdana Menteri Soekiman dari Partai Masyumi menetapkan kebijakan pemberian THR kepada PNS sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan aparatur negara sekaligus mendukung perekonomian saat hari raya. Namun, kebijakan ini kemudian menimbulkan kesenjangan sosial karena buruh dan pekerja swasta merasa tidak mendapatkan perlakuan yang adil. Akibatnya, perusahaan-perusahaan swasta mulai mengadopsi sistem THR bagi para pekerjanya.
Seiring waktu, kebijakan ini diperkuat melalui regulasi pemerintah, termasuk Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 4 Tahun 1994, yang kemudian diperbarui dengan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 6 Tahun 2016. Regulasi ini memastikan bahwa THR menjadi hak wajib bagi pekerja dengan masa kerja minimal satu bulan, dengan besaran setidaknya satu bulan gaji bagi mereka yang telah bekerja selama satu tahun atau lebih.
Dampak Sosial THR di Masyarakat
Meskipun pada awalnya THR ditujukan bagi pegawai dan pekerja formal, praktik ini berkembang luas hingga mencakup anak-anak, ibu rumah tangga, hingga masyarakat umum. Namun, di balik tradisi ini, terdapat berbagai tantangan dan dampak yang perlu diperhatikan:
1. Ketimpangan Finansial – Tidak semua orang memiliki kemampuan finansial untuk memberikan THR, tetapi ada tekanan sosial untuk melakukannya.
2. Tekanan Sosial – Orang yang lebih tua atau lebih mampu sering kali merasa harus memberi lebih banyak kepada yang lebih muda atau kurang mampu.
3. Perubahan Makna Hari Raya – Fokus perayaan sering kali bergeser dari nilai ibadah dan kebersamaan menjadi sekadar pemberian uang atau THR.
4. Konsumsi Berlebihan – THR sering kali dihabiskan untuk konsumsi berlebih, bukan untuk kebutuhan esensial atau jangka panjang.
5. Kenaikan Harga Barang – Permintaan yang meningkat akibat THR sering kali menyebabkan harga kebutuhan pokok melonjak menjelang hari raya.
6. Beban Psikologis bagi Pemberi – Mereka yang memiliki penghasilan lebih tinggi kerap merasa terbebani untuk memberikan lebih banyak.
7. Kesenjangan Sosial – Mereka yang tidak menerima THR sering kali merasa kurang beruntung atau tidak dihargai dalam perayaan hari raya.
Transformasi THR Menjadi Hadiah yang Lebih Bermakna
Sebagai solusi, kita dapat mengubah perspektif dari sekadar "THR" menjadi "Hadiah". Dengan meniatkan pemberian ini sebagai hadiah yang tulus, kita dapat menciptakan dampak emosional dan spiritual yang lebih mendalam.
Mengapa Hadiah Lebih Bermakna?
- Menghilangkan Kesan Kewajiban – THR sering kali dianggap sebagai kewajiban sosial, sementara hadiah diberikan dengan ketulusan dan cinta.
- Fleksibilitas dalam Pemberian – Hadiah tidak memiliki standar jumlah tertentu, sehingga tidak ada tekanan sosial dalam memberi.
- Meneladani Rasulullah – Rasulullah bersabda: "Tahaadu tahaabbuu" (Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai). (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad).
- Mempererat Hubungan – Hadiah menciptakan rasa kasih sayang, membangun keakraban, dan mempererat silaturahmi.
- Meningkatkan Kebahagiaan – Penerima merasa lebih dihargai, sementara pemberi merasa lebih bahagia karena memberi dari hati.
- Mengutamakan Ibadah – Dengan niat yang benar, hadiah dapat menjadi bentuk apresiasi atas ibadah dan kebaikan seseorang.
Membangun Makna dalam Pemberian Hadiah
Agar lebih bermakna, hadiah dapat diberikan dengan cara yang lebih interaktif. Sebelum memberikan hadiah, tanyakan pertanyaan yang menunjukkan perhatian terhadap ibadah dan usaha penerima, misalnya:
- "Siapa yang menyelesaikan puasa Ramadan dengan penuh?"
- Setelah dijawab: "Alhamdulillah, ini hadiah untukmu karena telah berpuasa dengan baik."
- "Siapa yang ikut shalat Idul Fitri di masjid?"
- Setelah dijawab: "MasyaAllah, ini hadiah untukmu karena telah menjaga shalat berjamaah."
Dengan metode ini, hadiah yang diberikan bukan sekadar materi, tetapi juga menjadi bentuk penghargaan atas amalan, kedisiplinan, dan kebaikan seseorang.
Manfaat Pendekatan Ini:
- Penerima merasa dihargai atas usahanya, bukan hanya karena tradisi pemberian uang.
- Membangun hubungan yang lebih erat antara pemberi dan penerima.
- Hadiah menjadi lebih bermakna karena diberikan sebagai apresiasi atas ibadah.
- Memotivasi orang untuk lebih semangat dalam beribadah tanpa mengharapkan imbalan materi.
- Anak-anak belajar bahwa sesuatu diperoleh karena usaha dan kebaikan, bukan hanya karena tradisi.
- Hari raya tidak hanya soal uang, tetapi juga penghargaan terhadap nilai spiritual dan sosial.
Kesimpulan: THR atau Hadiah?
Kini, pilihan ada di tangan kita: Apakah kita akan tetap memberikan THR dengan konsep lama, atau mengubahnya menjadi hadiah yang lebih bermakna?
Bagi yang belum pernah mencoba, mari praktikkan konsep ini di bulan Syawal dan rasakan perbedaannya. InsyaAllah, manfaatnya akan lebih besar, lebih mendalam, dan lebih berkah.
Barakallahu fiikum
Catatan Penghujung Ramadan / Awal Syawal 1446H
Sahabatmu,
Solichen