• Light rain17.2°CColumbus |
  • Jumat 04 April 2025

Spiritual Halal Bi Halal

Halal bi halal adalah tradisi mulia khas Indonesia. Lain kali kita ulas sejarahnya. Tradisi yang mulia ini beredar juga di Malaysia dan Brunei Darussalam. “Halal bi Halal" adalah Bahasa Arab yang dinusantarain. Maksud halal bi halal adalah "saling menghalalkan atau saling memaafkan" yang ritualnya biasanya adalah saling bersalaman.

Spiritual berasal dari kata "spirit+ritual". Nah, dalam halal bi halal ini ritualnya adalah "saling minta maaf" tapi spiritnya adalah "saling memaafkan". Memaafkan memang tidak semudah minta maaf pada..

Itu mengapa di Al-Quran tidak ada perintah "minta maaflah kepada manusia" tapi banyak sekali perintah "maafkanlah manusia". Pemaaf adalah salah satu sifat milik orang yang bertakwa, bahkan dalam QS. Ali-Imran: 133-134 berikut ini tegas dijelaskan bahwa imbalan luar biasa bagi para pemaaf..

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"Artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa," (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Ayat itu menjadi kesadaran bagi kita yang masih tidak mudah memaafkan seseorang, pilih mana ; syurga seluas langit bumi atau “tiada maaf” yang membiarkan penyakit itu di hati?. Yes tentu syurga!. Ditambah lagi bagi kita yang berpeluh dosa, ada hadits Nabi SAW riwayat At Thabrani "Maafkanlah, niscaya kamu akan dimaafkan (oleh Allah)."

Namun perlu dicatat dalam hadits Nabi SAW ada petunjuk bahwa minta maaf itu wajib bila kita punya kezaliman kepada saudara kita, khususnya kezaliman yang nyata.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لِاَخِيْهِ مِنْ عَرَضٍ أَوْمِنْ شَىْءٍ فَلْيتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ مِنْ قَبْلِ اَنْ لَا يَكُونَ دِيْنَارٌوَلَا دِرْهَمٌ اِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَمِنْهُ بِقَدْرِمَظْلَمَتِهِ وَاِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَمِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ.

Barangsiapa ada padanya perbuatan zalim kepada saudaranya menyangkut kehormatan atau apapun, maka hendaklah ia segera meminta kehalalan atas perbuatan zalim yang dia lakukan hari itu juga sebelum tidak ada dinar dan tidak ada dirham (yaitu pada hari kiamat dimana harta benda tidak ada gunanya). Jika ada baginya amal saleh maka diambil lah pahalanya sesuai dengan kadar kezalimannya. Jika sudah tidak ada amal-amal kebaikan, maka diambil lah dari dosa-dosanya orang-orang yang dizalimi. Lalu dosa itu dibebankan kepadanya. (HR Bukhari dan Tirmidzi). 

Pada akhirnya, kita tetaplah wajib memaafkan walaupun orang yang zalim kepada kita tidak minta maaf kepada kita. Dijelaskan dalam kitab at Targib wat Tarhib, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

الْعَفُوْ أَحَقُّ مَا عُمِلَ بِهِ (رواه البيهقي عن علي)

“Memaafkan adalah yang paling hak (benar) dikerjakan.” (HR. Baihaqi dari Ali)

Minta maaf itu pilihan dan kebijaksanaan kita, tapi memaafkan itu adalah kewajiban dan tanggung jawab kita. Sisi lain, ini menjadi pembelajaran bagi kita, oleh karena manusia tidak mudah memaafkan maka hati-hatilah dengan perkataan dan perbuatan kita terhadap sesama.

Dalam banyak dalil, ampunan Allah dan keridhoan-Nya ternyata berkait dengan maaf dan ridhonya orang lain untuk kita. Makna kemenangan di hari Raya Idul Fitri adalah 2 dimensi. Hablun minallah dan Hablun minannas. Disebut pemenang sejati jika kita bisa menjaga spirit dan ritual halal bi halal ini sepanjang tahun, bukan hanya saat hari raya. 

Maka super penting untuk senantiasa meneliti keridhoan orang lain sebagai proses halal bi halal setiap hari. Dalam training magnet rezeki, Ust. Nasrullah meramu jurus-jurus spesial tentang ini.

Bagaimana jika ada orang yang merasa benar dan tidak meminta maaf, padahal jelas dia pernah salah dan melukai hati kita? Urusan Anda memaafkannya dalam hati, introspeksi diri dan tetap doakan dia. Urusan dia serahkan kepada keadilan Allah ‘azza wa jalla.

“Memberi maaf kepada yang punya khilaf akan menentramkan hatinya, memberi maaf pada yang tidak merasa khilaf akan menentramkan hati kita (Salim A Fillah)”

Pada akhirnya, tradisi halal bi halal tidak cukup dengan salam-salaman atau pertemuan dengan jamuan kue lebaran, nastar dan ketupat opor ayam. Saat ini, banyak ruang tamu berubah jadi meja politik atau stokis bisnis, menonjolkan jagoan atau produknya, setengah hadiah setengah promosi maksudnya, tidaklah mengapa. Asal ujungnya halal bi halal. 

Berbagai cara memang kita patut perjuangkan untuk memberikan atau mendapatkan maaf, sehingga tercap label "Halal" yang kuat tersemat di keridhoan hati kita dan sesama, hati yang tentram, hati yang satu sama terhubung. Inilah spiritual halal bi halal.

Maafkan batin dan zahir ???

Salam Satu Sama Terhubung,

Abuss Alhalimi .